Sistem Pertahanan Canggih Israel Iron Dome yang Masih Bisa Ditembus Roket Hamas

Sistem Pertahanan Canggih Israel Iron Dome yang Masih Bisa Ditembus Roket Hamas

Sistem Pertahanan Canggih Israel Iron Dome – Dalam sepekan terakhir, perhatian warga dunia seolah semua tertuju ke kawasan Timur Tengah seiring meningkatnya konflik Israel-Palestina. Setelah beberapa waktu terjadi ketegangan di Jerusalem, konflik meningkat menjadi perang terbuka menyusul kerusuhan di kompleks Masjid Al Aqsa yang melibatkan warga Palestina dan tentara Israel. Ratusan warga Palestina dilaporkan terluka dalam bentrokan itu.

 

Sistem Pertahanan Canggih Israel

 

Merespon hal itu, Hamas, organisasi yang menguasai Jalur Gaza, meluncurkan roket ke Jerusalem barat yang kemudian dibalas Israel dengan serangan udara ke Gaza. Saling serang pun terjadi sejak akhir Ramadhan lalu hingga saat ini. Tak ayal, lebih dari 170 warga Palestina, termasuk sedikitnya 41 anak, dilaporkan tewas di Jalur Gaza akibat serangan udara Israel selama sepekan terakhir. Sementara itu, Israel melaporkan 10 warganya tewas terkena serangan roket Hamas, termasuk 2 anak.

Konflik ini mengundang keprihatinan warga dunia dan mewarnai hampir semua pemberitaan di media. Gambaran perang terbuka menjadi laporan utama di sejumlah media. Foto dan video saling serang roket dan persenjataan berat turut menghiasi langit malam di Gaza dan sebagian wilayah Israel. Kilatan cahaya roket yang ditembakkan militan Hamas yang dibalas sistem pertahanan udara Iron Dome dari Israel laksana pesta kembang api.

ron Dome Israel adalah sistem pertahanan udara yang dikembangkan oleh perusahaan Israel, Rafael Advanced Defense Systems dan Israel Aerospace Industries, dengan dukungan finansial dan teknis dari Amerika Serikat. Diklaim sebagia sistem pertahanan paling canggih saat ini, Iron Dome dirancang untuk menghentikan roket dan artileri jarak pendek seperti yang ditembakkan dari Gaza serta untuk antisipasi ancaman jarak menengah dan jauh, termasuk pesawat, drone, roket, dan rudal.

Iron Dome mengandalkan sistem radar dan analisis untuk menentukan apakah roket yang masuk merupakan ancaman, menembakkan pencegat hanya jika roket yang masuk berisiko mengenai daerah berpenduduk atau infrastruktur penting. Pencegat, yang ditembakkan secara vertikal baik dari unit bergerak maupun situs peluncuran statis, dirancang untuk meledakkan roket yang masuk di udara, menghasilkan ledakan di langit yang menyertai sirene peringatan selama konflik Israel-Palestina baru-baru ini.

 

Efektivitas penahan

 

Pejabat Israel dan perusahaan pertahanan mengatakan bahwa sistem tersebut telah menghentikan ribuan roket dan artileri mencapai target mereka, dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90 persen. Namun, klaim tersebut dipertanyakan ketika masih banyak roket yang ditembakkan kelompok-kelompok militan Palestina dari Gaza yang menghantam wilayah permukiman di sejumlah wilayah Israel dan mengakibatkan sejumlah korban jiwa.

”Tidak ada sistem pertahanan rudal yang dapat diandalkan secara sempurna, terutama terhadap ancaman yang terus berkembang,” tulis Michael Armstrong, seorang profesor di Universitas Brock, yang telah mempelajari keefektifan sistem, dalam penilaian 2019 sebagaimana dilansir The Washington Post.

Hamas, yang sekarang menguasai Gaza, mulai memproduksi roket bernama Qassam sekitar tahun 2001, selama intifada kedua. Awalnya, roket memiliki jangkauan hanya 2 atau 3 mil (3,7-5,5 kilometer), tetapi versi yang lebih baru, seperti ”Qassam 3”, memiliki jangkauan sekitar 10 mil (18,5 km). Namun, beberapa roket, seperti yang menghantam Tel Aviv, kira-kira 40 mil (74 km) dari perbatasan Gaza pada pekan lalu, memiliki jangkauan yang lebih jauh. Militer Israel mengatakan pada 2019 bahwa roket Palestina yang menghantam sebuah rumah di dekat Tel Aviv memiliki jangkauan 75 mil (138,9 km).

Menghadapi Iron Dome, Hamas berusaha mencari cara untuk menembus sistem pertahanan tersebut. Salah satu yang ditempuh adalah dengan menembakkan roket salvo, yaitu meluncurkan puluhan bahkan ratusan roket secara simultan atau beruntun dalam satu waktu. Iron Dome diduga memiliki titik jenuh. Sistem ini dinilai efektif mencegat serangan, tetapi tidak mampu menahan rentetan roket yang bertubi-tubi dalam satu waktu. Serangan simultan terbukti bisa menembus sistem dan menimbulkan kerusakan.

Meskipun senjatanya sering kali kasar dan banyak yang tidak memiliki sistem panduan, jumlah dan biayanya yang rendah merupakan keuntungan Hamas melawan Iron Dome. Menurut laporan pers di Israel, biaya pembuatan roket Hamas mungkin hanya ratusan dollar AS, sedangkan setiap unit pencegat Iron Dome berharga sekitar 80.000 dollar AS.

Michael Herzog, pensiunan brigadir jenderal di Pasukan Pertahanan Israel, mengatakan kepada The Washington Post pada 2019 bahwa roket jarak pendek juga menjadi ancaman karena Iron Dome kurang efektif pada jarak 2,5 mil (4,6 km) atau kurang.

 

Pengembangan Iron Dome

 

Penembakan roket oleh Hizbullah selama Perang Lebanon Kedua tahun 2006 menjadi alasan dikembangkannya Iron Dome. Hampir 4.000 roket, sebagian besar dari jenis Katyusha jarak pendek, ditembakkan ke Haifa dan wilayah utara Israel lainnya. Sekitar 44 warga sipil Israel tewas dalam serangan itu dan sekitar 250.000 warga dievakuasi dan dipindahkan ke bagian lain Israel.

Antara tahun 2000 dan 2008, lebih dari 4.000 mortir dan 4.000 roket (kebanyakan Qassam) ditembakkan dari Gaza ke Israel selatan. Karena jangkauan Qassam telah diperluas dengan pengenalan peluncur roket Grad 122 mm, hampir satu juta orang Israel selatan berada dalam jangkauan serangan. Untuk melawan ancaman roket, Kementerian Pertahanan Israel memutuskan pada Februari 2007 untuk mengembangkan sistem pertahanan udara bergerak.