Berani Baca 4 Kisah Horor Ini Gak?

Berani Baca 4 Kisah Horor Ini Gak?

Berani Baca 5 Kisah Horor Ini Gak? – Meskipun banyak orang penakut di dunia ini, namun kisah horor tetap laris di mana-mana. Entah itu diceritakan saat sedang ngumpul atau dinikmati sendiri, kisah horor memang gak ada matinya… Ya mungkin tokoh dalam cerita itu ada yang mati, tapi tidak dengan pesona dari kisah horor tersebut.

IDN Times punya segudang koleksi kisah paling mengerikan yang dijamin bakal bikin bulu kudukmu meremang. Kalau kamu memang bernyali baja, atau sekadar ingin baca kisah pengantar tidur, coba deh baca lima cerita horor ini di malam hari dengan lampu kamar padam.

1. Dari lantai dua

Ketika aku masih kecil, keluargaku pindah ke sebuah rumah tua berlantai dua yang memiliki banyak kamar dan pintu-pintunya berderit keras. Kedua orangtuaku bekerja, sehingga aku sering di rumah sendirian sepulang sekolah.

Pada suatu sore aku pulang dan mendapati rumah masih gelap. Aku memanggil mamaku “Mama?” dan mendengar suara merdunya menjawab “Yaaa?” dari lantai dua. Aku panggil mama sekali lagi sambil menaiki tangga menuju lantai dua, hendak mencari di mana mamaku berada. Sekali lagi mama menjawab “Yaaa?” dengan suara yang lembut.

Karena belum terlalu lama pindah ke rumah itu, aku belum terlalu hapal dengan denahnya. Tetapi aku yakin suara mama berasal dari salah satu kamar kosong yang terletak di ujung lorong. Aku sempat merasa merinding, tapi kupikir itu hal yang wajar. Dan begitu aku bertemu mama nanti pasti perasaan itu akan hilang! Jadi aku segera menuju kamar di ujung lorong dan menggapai kenop pintunya.

Ketika baru akan memutar kenop pintu kamar itu, aku mendengar pintu depan rumah terbuka. Suara mamaku yang melengking ceria terdengar memanggil dari bawah “Nak, kamu sudah pulang duluan?”

Spontan aku terperajat! Melompat mundur dari pintu kamar kosong di depanku dan berlari kabur ingin menyambut mamaku yang ada di bawah! Namun selagi menengok ke belakang untuk terakhir kalinya, aku melihat pintunya terbuka sedikit dengan bunyi derit nyaring. Dan seseorang… tidak! Sesuatu, memandangiku dari celah pintu tersebut.

2. Yang mana?

Selagi mengecek putraku sebelum tidur, membenahi bantal dan selimutnya agar nyaman, anakku merengek. Katanya “Ayah, tolong periksa apakah ada hantu di bawah kolong tempat tidurku…”

Sambil tersenyum simpul, aku menuruti permintaannya dan menengok ke bawah kolong. Di bawah kolong aku menemukan sosok anakku, anak yang mirip persis dengan bocah di atas tempat tidur. Dia meringkuk menggigil di bawah sana sambil berbisik kepadaku “Ayah, tolong… di atas tempat tidurku ada hantu…”

3. Lukisan.

Ada seorang pemburu yang berada di tengah hutan lebat setelah kelelahan berburu sepanjang hari. Hari sudah senja dan karena ia kehilangan sebagian peralatannya, sang pemburu terpaksa harus bermalam di hutan. Ia pun mencari tempat yang bisa dijadikannya persinggahan. Setelah berjalan selama satu jam menemukan gubuk tua tak berpenghuni.

Pintu gubuk itu terbuka, sehingga ia dapat masuk dengan mudah. Ada sebuah dipan di dalamnya, dia pun segera merebahkan diri di sana. Sesaat kemudian sang pemburu sadar bahwa dinding gubuk itu dipenuhi lukisan sangat realistis dengan gambar wajah-wajah seram yang tampak melotot dan memandangnya dengan bengis. Begitu detilnya sampai lukisan-lukisan itu terlihat nyata.

Sang pemburu kaget dan merasa tak nyaman. Namun, saking letihnya, memilih untuk mengacuhkannya dan tidur menghadap tembok yang polos tanpa lukisan.

Keesokan paginya, sang pemburu terbangun karena sinar matahari yang begitu terang. Dengan keheranan ia bangkit dari rebahnya dan memandang sekeliling gubuk. Lalu menyadari bahwa tidak ada banyak lukisan wajah dalam gubuk itu…

Hanya ada banyak jendela yang terbuka.

4. Mimpi Buruk.

“Papa, aku mimpi buruk…”

Aku mengedipkan mata, berusaha mengusir kantuk yang menggelayutinya. Aku melirik jam dinding dan saat itu masih pukul 3 malam. “Kenapa, Nak? Sini naik, ceritakan mimpimu…”

“Tidak mau…”

Kejanggalan situasi itu membuatku terjaga penuh. Sosok pucat anakku samar-samar terlihat dalam kamarku yang gelap. “Kok tidak mau, Nak?”

“Karena dalam mimpiku, ketika aku menceritakannya kepada Papa, makhluk yang memakai kulit Mama itu bangun…” bisiknya lirih.

Hatiku mencelos, aku terkesiap. Selama beberapa saat aku mematung, jantung berdebar hebat, mataku tak bisa berhenti menatap nanar sosok anakku. Sedetik kemudian selimut di belakangku bergerak…